Yth. Semesta..

/ Jumat, 11 November 2011 /
Dear Semesta,
Pertama ijinkan saya mengucap salam taklim, sebagai tanda perkenalan. Bila dianggap terlalu pongah, tak apalah. Karena sekian lama kita hidup berdampingan, jarang sekali bertegur sapa. Dan baru sekarang saya bertulis surat. Semesta, dulu seorang teman pernah menulis tentangmu, tentang kesediaanmu untuk mendukung keinginan seseorang, apakah itu benar? Karena mungkin saya sedang butuh dukungan saat ini. Sedikit cerita, sepertinya Tuhan sedang bercanda dengan saya. Karena banyak hal yang saya harapkan sebuah pencapaian kebaikan, akan saya mulai dalam waktu bersamaan. Sekali lagi bukan karena pongah saya merasa berkemampuan, tapi memang harus dilakukan jika ingin ringan di akhir nanti. Namun disisi lain, godaan untuk mencapai sebuah kemunduran datang juga dalam waktu yang bersamaan. Nah letak candanya adalah, sepertinya Tuhan sengaja memudahkan jalan ke arah godaan ..sungguh mudah.  Sedangkah untuk memulai langkah demi pencapaian kebaikan tadi, sulit...sungguh sulit. Oleh karena itu wahai semesta, tolonglah saya. Bantu saya merajuk kepada Tuhan. Agar niat baik saya didukung, jauhkan godaan yang menghadang. 
Demikian, saya tunggu jawabanmu semesta.

  
READ MORE - Yth. Semesta..

mengejar matic

/ Jumat, 28 Oktober 2011 /
Sabtu malam(lebih nyaman disebut daripada malam minggu), 22 oktober selepas maghrib, meluncurlah saya ke roti bakar langganan. Sampai di tempat, ternyata tukangnya masih menyiapkan tenda. Saya pun memutuskan untuk nglintong satu putaran dulu melewati ringroad - jalan wates - wirobrajan - jalan godean lagi..sekiranya nanti pas datang tukang rotinya sudah siap. Pelan-pelan motor saya pacu. Sesampainya di pertigaan jujuran, tiba-tiba settt... sebuah matic pink memotong laju. Awalnya tiada praduga, akan tetapi lama-lama... mulai dari plat, stiker warna hijau, tas, sampai helm, sepertinya saya mengenal matic ini (bukan kenal, tapi sekedar mengetahui saja). Sambil menunggu lampu hijau di perempatan wirobrajan, saya berfikir, mau kemanakah si empu matic ini, karena perlu diketahui sebelumnya, berdasarkan pengetahuan sementara, beliaunya tinggal di jogja wilayah barat. 
Dugaan #1 : baru pulang kuliah, mau mampir ke rumah/kost teman ngerjain tugas
Entah apa ada di fikiran saya, saat lampu hijau menyala, laju motor nempel kemana arah matic itu pergi. Dibilang kurang kerjaan, atau mengganggu privasi orang, bisa jadi saya iyakan. Akan tetapi rasa ingin tahu yang saya rasakan saat itu lebih besar dari rasa kangen akan roti bakar tadi. Kembali ke cerita, laju kami(saya dan si matic) sampai di perempatan brantan. menilik posisi matic berhenti, sepertinya tujuan masih lurus, tidak belok kanan atawa belok kiri. Dengan kata lain, arah malioboro. Dan saya tiba tiba teringat..
Dugaan #2 : ingin nonton Jogja Java Carnival, janjian dengan teman-teman ketemu di venue
Di pertigaan pku, jalanan sudah penuh sesak.  Matic di depan saya merayap mengikuti arus,membelah jalan yang penuh orang lalu lalang. Dan saya pun masih mengikuti di belakang. Dalam hati saya bertanya, mau parkir dimana si matic ini, bingung. Dan benar saja, tepat di perempatan nol kilometer, si matic masih lurus saja. Dari pengamatan saya, si empunya matic seperti tidak tertarik dengan pikuk keadaan sekitar, meski sesekali menoleh ke samping, tapi lebih pada memperhatikan sepasang muda-mudi yang berboncengan, sampai akhirnya berhenti di perempatan gondomanan.
Dugaan #3 : jemput saudara/orang tua, atau kerumah saudara
Jalanan lancar kembali, sesekali sempat kehilangan jejak karena satu dan laen kendaraan, tapi masih terkendali. Saya sebenar-benarnya semakin bingung, kemana arah tujuan si matic ini. Bahkan sudah sampai depan pasar sentul, tapilah tidak ada tanda-tanda akan berbelok. Entah karena saya sambil melamun dan berfikir, tiba-tiba si matic melesat jauh di depan, sementara sebuah kendaraan roda empat yang biasa disebut mobil menghalangi laju saya. Sejurus kemudian saya kehilangan si matic di seputaran taman makam pahlawan. Dengan asumsi bahwa si matic masih lurus, saya pun cenanangan memacu motor lurus ke timur, sambil mencari-cari matic di depan. Gembira loka --->gedong kuning --->jalan wonosari....nihil. Saya kehilangan saudara-saudara. Berhenti sejenak dan merenung sejenak juga, menghitung-hitung dimana si matic belok. Dan perenungan saya terhenti ketika saya menyadari betapa bodohnya saya. Semuanya terjadi karena saya selalu lebih suka menyebut sabtu malam daripada malam minggu.... ya.. malam itu adalah malam minggu. Jadi dugaan selanjutnya adalah seperti yang saudara fikirkan.
Kesimpulan : akhirnya alangkah baiknya jika saya kembali ke barat, memenuhi hasrat semula untuk membeli roti bakar. Tentang dugaan #4, sementara saya simpan dulu, karena mungkin di lain waktu, akan ada edisi pengejaran berikutnya, sesuatu yang tidak disengaja lagi...




READ MORE - mengejar matic

Archive

Follow by Email

 
Copyright © 2010 some how... we're connected, All rights reserved
Design by DZignine. Powered by Blogger